Pendidikan Tinggi, Apakah Pasti Membuat Seseorang Lebih Kaya?
Pendidikan sering disebut sebagai investasi terbaik. Logikanya sederhana: sekolah lebih tinggi membuka peluang kerja yang lebih baik, pendapatan meningkat, lalu seseorang dapat menabung, membeli aset, dan membangun kekayaan. Secara umum, banyak penelitian memang menemukan hubungan positif antara pendidikan dan kekayaan. Namun, pendidikan bukanlah tiket otomatis menuju kaya.
Mengapa Pendidikan Cenderung Berkaitan dengan Kekayaan?
Pendidikan dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, produktivitas, serta akses seseorang terhadap pekerjaan formal dan berpendapatan lebih tinggi. Laporan Bank Dunia menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi secara konsisten berkaitan dengan peningkatan pendapatan individu, meskipun besarnya berbeda antarnegara dan kelompok masyarakat (World Bank, 1980).
Dalam konteks Indonesia, penelitian Widyastuti et al. (2025) juga menemukan bahwa tingkat pendidikan kepala rumah tangga berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan keluarga. Dengan kata lain, semakin tinggi pendidikan kepala keluarga, semakin besar pula pendapatan yang dihasilkan. Pendapatan tersebut tentu dapat menjadi modal awal untuk menabung, berinvestasi, membeli rumah, atau membangun usaha.
Hubungan ini terlihat pula pada data keluarga di Amerika Serikat. Rumah tangga dengan pendidikan lebih tinggi cenderung mempunyai pendapatan dan kekayaan median lebih besar, aset yang lebih likuid, investasi yang lebih beragam, dan tingkat utang yang lebih rendah dibandingkan asetnya (Federal Reserve Bank of St. Louis, 2017).
Pendidikan Bukan Sekadar Ijazah
Pendidikan dapat membantu seseorang memperoleh pekerjaan, tetapi kekayaan tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya gaji. Kekayaan juga bergantung pada cara seseorang mengelola uang: apakah ia menabung, memiliki dana darurat, menghindari utang konsumtif, berinvestasi, dan merencanakan masa pensiun.
Behrman et al. (2012) menemukan bahwa pendidikan dan literasi keuangan sama-sama berkorelasi positif dengan kekayaan, kontribusi pensiun, dan perencanaan pensiun. Akan tetapi, pengaruh literasi keuangan ternyata sangat kuat; setelah faktor ini diperhitungkan, pendidikan formal saja tidak selalu menunjukkan pengaruh positif yang signifikan terhadap kekayaan. Artinya, sekolah tinggi akan lebih bermanfaat secara finansial jika diikuti kemampuan mengelola keuangan.
Contohnya, dua orang dapat memiliki pendidikan dan pendapatan yang sama. Orang pertama menggunakan kenaikan pendapatan untuk menabung dan membeli aset produktif. Orang kedua menggunakan seluruh tambahan pendapatan untuk konsumsi dan utang. Dalam jangka panjang, tingkat kekayaan keduanya dapat sangat berbeda.
Tidak Selalu Berbanding Lurus
Pendidikan tinggi tidak otomatis menjamin seseorang kaya. Hal ini terlihat dalam penelitian tentang masyarakat Desa Cibeureum, Kabupaten Bandung. Studi tersebut menemukan bahwa tingkat pendidikan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat kekayaan masyarakat setempat; penduduk berpendidikan rendah pun dapat memiliki kekayaan yang tinggi. (Kurniawati, 2017).
Temuan ini masuk akal, terutama pada wilayah yang ekonominya bertumpu pada pertanian, perdagangan, usaha keluarga, kepemilikan tanah, atau aset warisan. Dalam situasi seperti itu, pengalaman usaha, jaringan sosial, modal awal, dan kepemilikan aset produktif dapat lebih menentukan kekayaan daripada jenjang pendidikan formal.
Selain itu, hubungan antara pendidikan dan kekayaan juga dapat berjalan dua arah. Keluarga yang telah kaya lebih mampu membiayai sekolah berkualitas, kursus, perguruan tinggi, serta lingkungan belajar yang mendukung bagi anak-anak mereka. Karena itu, ketika seseorang berpendidikan tinggi sekaligus kaya, tidak selalu mudah menyimpulkan bahwa pendidikanlah satu-satunya penyebab kekayaannya.
Secara umum, pendidikan memiliki hubungan positif dengan pendapatan, kondisi ekonomi, dan peluang membangun kekayaan. Pendidikan meningkatkan kapasitas seseorang untuk memperoleh pekerjaan yang lebih produktif, memahami informasi, dan membuat keputusan ekonomi yang lebih baik.
Namun, pendidikan bukan faktor tunggal. Kekayaan juga dipengaruhi oleh literasi keuangan, jenis pekerjaan, pengalaman, kondisi pasar kerja, lokasi, modal keluarga, warisan, kepemilikan aset, serta kebiasaan konsumsi. Karena itu, rumusan yang lebih tepat bukan “pendidikan pasti membuat kaya,” melainkan:
Pendidikan meningkatkan peluang seseorang untuk membangun kekayaan, terutama apabila disertai literasi keuangan, disiplin menabung, akses terhadap pekerjaan produktif, dan kesempatan memiliki aset.
Daftar Pustaka
Behrman, J. R., Mitchell, O. S., Soo, C. K., & Bravo, D. (2012). *How financial literacy affects household wealth accumulation*. American Economic Review, 102(3), 300–304.
Federal Reserve Bank of St. Louis. (2017). *Education, income, and wealth*. Page One Economics.
Kurniawati, N. (2017). *Korelasi tingkat pendidikan dengan tingkat kekayaan masyarakat desa: Studi kasus di Desa Cibeureum Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung*. UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Widyastuti, L., Mardiyanti, R. A., Meyana, S. P., & kolega. (2025). Pengaruh tingkat pendidikan dan pengeluaran rumah tangga terhadap pendapatan keluarga. *Determinasi: Jurnal Riset Ekonomi dan Manajemen*.
World Bank. (1980). *World Development Report 1980*. Washington, DC: World Bank.
Komentar
Posting Komentar