Perjalanan Manusia Menguasai Risiko
Risiko. Kata ini seolah menjadi hantu yang terus membayangi saya di setiap babak kehidupan. Saat bimbang memilih jurusan kuliah, orang tua saya duduk bersama, mengupas tuntas segala risikonya. Di dunia kerja, saat saya menjadi akademisi, diskusi dengan rekan-rekan tak pernah jauh dari menimbang-nimbang risiko dari setiap langkah yang akan kami ambil. Puncaknya, ketika saya nekat terjun ke dunia bisnis dan masuk ke lingkaran para pebisnis, kata itu kembali menjadi menu utama. Risiko, risiko, dan risiko. Namun, ada satu hal ganjil yang saya sadari. Meskipun semua orang membicarakannya, sangat sedikit yang benar-benar mengerti apa itu risiko. Ini bukan sekadar masalah istilah, sebab salah paham soal risiko bisa berakibat fatal. Peluang emas yang bisa mengubah nasib malah dihindari karena dianggap “terlalu berbahaya,” padahal yang berbahaya bukanlah risikonya, melainkan butanya kita akan pengetahuan.
Untuk membongkar misteri ini, kita butuh pemandu yang tepat. Dan saya rasa, tidak ada pemandu yang lebih baik dari sebuah buku legendaris karya Peter L. Bernstein yang berjudul "Against the Gods." Buku ini bukan sekadar buku biasa, melainkan sebuah mesin waktu yang membawa kita dalam petualangan intelektual. Kita akan melihat bagaimana manusia berevolusi dari makhluk pasrah yang hidupnya diatur oleh nasib dan kemauan dewa, menjadi peradaban yang berani menantang takdir dengan angka dan logika. Saking dahsyatnya buku ini, saya dulu sering memaksa mahasiswa bimbingan saya untuk menamatkannya sebelum mereka lulus. Anggap saja ini bekal wajib untuk bertarung di dunia nyata.
Di halaman-halaman awalnya, Bernstein langsung melemparkan sebuah gagasan yang mengubah cara kita memandang sejarah. Penguasaan risiko, katanya, bukanlah sekadar penemuan rumus matematika yang kebetulan saja terlambat. Ia adalah sebuah revolusi kesadaran yang baru bisa terjadi setelah manusia merombak total cara pandangnya terhadap masa depan. Bernstein menunjuk pada sebuah paradoks yang menggelitik. Peradaban super canggih seperti Yunani Kuno adalah para penjudi ulung, sebuah aktivitas yang merupakan esensi dari pengambilan risiko. Anehnya, para jenius ini tidak pernah sekalipun melahirkan teori probabilitas. Mengapa? Jawabannya bukan karena mereka tidak mampu. Masalahnya ada di kepala mereka. Mereka memandang dunia sebagai panggung sandiwara para dewa yang penuh kekacauan dan tak bisa diprediksi. Selain itu, ada masalah teknis yang sepele namun krusial, yaitu sistem angka mereka yang tidak praktis untuk diajak berhitung.
Lalu, kapan revolusi itu dimulai? Ia tidak terjadi dalam semalam. Pondasinya dibangun oleh beberapa perkembangan sejarah yang mengubah permainan. Kepingan puzzle pertama, dan yang paling penting, adalah diperkenalkannya sistem angka Hindu-Arab ke dunia Barat. Sistem ini, lengkap dengan angka nol yang revolusioner, adalah alat yang memungkinkan manusia melakukan perhitungan rumit dan berpikir abstrak. Tanpa sistem angka ini, probabilitas akan selamanya menjadi misteri. Kemudian, angin perubahan datang dari gerakan Renaissance dan Reformasi. Gerakan ini menumbuhkan kesadaran baru bahwa nasib seseorang ada di tangannya sendiri, bukan lagi sekadar takdir. Ini mendorong orang untuk mulai memikirkan konsekuensi masa depan dari tindakan mereka saat ini. Terakhir, geliat perdagangan dan kapitalisme menjadi mesin pendorongnya. Para pedagang dipaksa untuk menjadi peramal. Mereka harus bisa memprediksi permintaan, pasokan, dan harga. Kebutuhan praktis inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi manusia untuk mencari cara menjinakkan ketidakpastian.
Namun, setiap ide baru pasti menghadapi perlawanan. Ketika seorang matematikawan jenius dari Italia bernama Fibonacci memperkenalkan sistem angka Hindu-Arab lewat bukunya yang monumental, "Liber Abaci," ia tidak disambut dengan karpet merah. Orang-orang justru takut. Coba Anda bayangkan hidup di abad ke-13. Semua dokumen bisnis, catatan utang, dan buku kas ditulis dengan tangan. Kepercayaan adalah segalanya. Sistem angka Romawi yang lama, meskipun merepotkan, punya satu kelebihan yaitu sulit untuk dipalsukan. Sebaliknya, angka-angka Arab yang baru ini sangat rentan dimanipulasi dalam tulisan tangan. Sebuah angka ‘0’ bisa dengan mudah diubah menjadi ‘6’ atau ‘9’. Angka ‘1’ bisa disulap menjadi ‘7’. Bagi para bankir dan pedagang, sistem baru ini membuka pintu neraka bagi penipuan dan korupsi.
Oh ya, sebelum kita lanjut, ada satu detail menarik dari Fibonacci. Dalam bukunya, ia mengajukan teka-teki tentang perkembangbiakan kelinci yang menghasilkan sebuah deret angka ajaib yang kita kenal sebagai Deret Fibonacci, yaitu 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, dan seterusnya. Ajaibnya, jika Anda membagi satu angka dalam deret itu dengan angka sebelumnya, hasilnya akan semakin mendekati 1.618. Angka ini dikenal sebagai rasio emas atau golden mean, sebuah proporsi misterius yang muncul di mana-mana, mulai dari arsitektur Parthenon di Yunani, bentuk galaksi spiral, cangkang kerang, hingga proporsi tubuh manusia. Seolah-olah ada sebuah kode tersembunyi di alam semesta.
Kembali ke masalah penolakan, ide Fibonacci baru bisa diterima secara massal berkat sebuah teknologi yang mengubah dunia, yaitu mesin cetak. Apa hubungannya? Mesin cetak menciptakan sesuatu yang sangat krusial, yaitu standarisasi. Sebelum ada mesin cetak, tulisan tangan setiap orang berbeda. Namun, dengan mesin cetak, setiap huruf dan angka dibuat dari cetakan logam yang identik. Tiba-tiba, semua orang jadi punya acuan "bentuk resmi" dari setiap angka. Kini, jika ada petugas licik yang mencoba mengubah angka ‘1’ menjadi ‘7’ di buku kas, pemalsuannya akan langsung ketahuan. Orang akan membandingkannya dengan bentuk standar dari buku-buku cetak dan berkata, “Tunggu dulu, ini bukan angka 7 yang asli!” Standarisasi ini menutup celah penipuan, sehingga keunggulan sistem angka Arab dalam berhitung akhirnya bisa dimanfaatkan sepenuhnya.
Dengan fondasi yang telah kokoh, panggung pun siap untuk pertunjukan utamanya. Momen kelahiran teori probabilitas modern terjadi pada tahun 1654, hasil dari sebuah kolaborasi tak terduga antara tiga tokoh Prancis. Ada seorang bangsawan penjudi, seorang matematikawan brilian yang saleh bernama Blaise Pascal, dan seorang pengacara yang juga seorang jenius matematika, Pierre de Fermat. Mereka mencoba memecahkan sebuah teka-teki kuno yang belum terpecahkan. Bagaimana seharusnya dua pemain membagi uang taruhan secara adil jika permainan terpaksa berhenti di tengah jalan, padahal salah satu pemain sudah dalam posisi unggul?
Di sinilah letak lompatan berpikir mereka yang jenius. Kuncinya adalah berhenti melihat ke belakang pada skor yang sudah ada, dan mulailah melihat ke depan dengan memetakan semua kemungkinan di masa depan. Pembagian yang adil, kata mereka, tidak didasarkan pada poin yang sudah diraih, melainkan pada peluang atau probabilitas masing-masing pemain untuk menang seandainya permainan itu dilanjutkan. Mari kita buat sederhana. Anggap Anda dan teman Anda bertaruh total Rp100.000 dalam permainan yang pemenangnya adalah yang pertama mencapai 3 poin. Tiba-tiba, saat skor 2-1 untuk keunggulan Anda, permainan harus berhenti. Bagaimana membagi uangnya? Pascal dan Fermat akan menelusuri semua kemungkinan jalur masa depan. Dari empat skenario masa depan yang mungkin terjadi dengan peluang yang sama, ternyata ada tiga skenario yang membawa Anda pada kemenangan, dan hanya satu skenario untuk teman Anda. Artinya, peluang Anda menang adalah 3 dari 4, atau 75%. Jadi, pembagian yang paling adil adalah Anda mendapatkan Rp75.000 dan teman Anda Rp25.000. Ini adalah esensi dari manajemen risiko, yaitu membuat keputusan paling rasional dengan informasi yang kita punya, meskipun hasilnya tidak pernah bisa dijamin seratus persen.
Ide abstrak ini kemudian ditarik ke bumi dan diterapkan dalam kehidupan nyata oleh dua pahlawan tanpa tanda jasa dari Inggris. Yang pertama adalah John Graunt, seorang pedagang kancing dan jarum di London. Tanpa latar belakang akademis, ia melakukan hal yang luar biasa. Ia mengumpulkan "Bills of Mortality," yaitu catatan mingguan tentang kelahiran dan kematian, lalu menganalisisnya secara sistematis. Ia menghitung tingkat kematian anak, rasio pria dan wanita, hingga penyebab kematian paling umum. Ia adalah orang pertama yang menggunakan inferensi statistik untuk menyimpulkan gambaran besar dari data sampel, menjadikannya bapak ilmu statistik dan demografi.
Karyanya kemudian disempurnakan oleh Edmund Halley, sang astronom yang terkenal dengan kometnya. Halley menggunakan metode yang lebih canggih untuk membuat tabel mortalitas (tabel kehidupan) pertama yang benar-benar ilmiah. Tabel ini, untuk pertama kalinya, menunjukkan secara matematis peluang seseorang pada usia tertentu untuk hidup satu tahun lagi dan berapa perkiraan harapan hidupnya. Halley bahkan secara eksplisit menyatakan bahwa tabelnya bisa digunakan untuk menghitung harga asuransi jiwa dan nilai anuitas, yaitu produk keuangan yang membayar pendapatan seumur hidup. Kebutuhan praktis ini bertemu dengan para pebisnis di kedai-kedai kopi London, khususnya di kedai milik Edward Lloyd. Di sanalah para pedagang, kapten kapal, dan pemodal berkumpul. Para pemodal yang bersedia menanggung risiko kapal akan menulis nama mereka di bawah kontrak asuransi, yang membuat mereka disebut underwriters. Dari sinilah lahir Lloyd's of London, pasar asuransi paling legendaris di dunia, yang mengubah risiko dari nasib buruk menjadi sesuatu yang bisa diberi harga.
Namun, cerita menjadi semakin menarik ketika kita menyadari bahwa risiko bukan hanya soal angka. Seorang matematikawan Swiss bernama Daniel Bernoulli menambahkan elemen yang paling penting, yaitu psikologi. Pada tahun 1738, Bernoulli memperkenalkan konsep utilitas. Menurutnya, nilai sebuah hal tidak boleh diukur dari harganya, tetapi dari kepuasan atau kegunaan subjektif yang diberikannya. Dalam mengambil keputusan, manusia tidak memaksimalkan nilai uang, tetapi memaksimalkan utilitas. Inilah yang menjelaskan mengapa kita sering membuat keputusan yang tampak "tidak logis".
Coba pikirkan skenario ini. Ada tawaran investasi Rp100 juta dengan peluang 85% akan menjadi Rp300 juta, dan 15% akan hangus menjadi nol. Secara matematis murni, menggunakan konsep Nilai Harapan (Expected Value), ini adalah tawaran yang luar biasa bagus. Siapa pun seharusnya mengambilnya. Tapi Bernoulli bertanya, bagaimana jika Rp100 juta itu adalah seluruh uang pensiun Anda? Rasa sakit dari kemungkinan kehilangan seluruhnya secara psikologis jauh lebih berat daripada kegembiraan dari kemungkinan menang besar. Kegembiraan naik dari 100 juta ke 300 juta tidak sebanding dengan penderitaan jatuh dari 100 juta ke nol. Inilah konsep Utilitas Harapan (Expected Utility). Kita tidak sedang memaksimalkan angka di atas kertas, kita sedang memaksimalkan rasa aman dan menghindari penderitaan.
Di titik inilah saya sering teringat pada konsep Black Swan, yaitu kejadian langka yang dampaknya luar biasa besar dan tidak bisa diprediksi. Perhitungan 85% itu bisa langsung jadi sampah jika tiba-tiba terjadi skandal di perusahaan atau bencana alam. Lalu bagaimana? Solusinya ada pada cara bermain para penjudi profesional. Penjudi amatir akan mempertaruhkan seluruh uangnya pada satu peluang emas. Jika berhasil, ia kaya raya; jika gagal, ia tamat. Penjudi profesional tahu bahwa kesialan bisa datang kapan saja. Fokus utama mereka bukanlah menang besar, melainkan bertahan dalam permainan selama mungkin. Mereka tidak pernah mempertaruhkan jumlah yang bisa menghancurkan mereka. Mereka mengontrol paparan risiko mereka.
Setelah Bernoulli, para pemikir hebat lainnya terus menyempurnakan alat kita. Jacob Bernoulli (paman dari Daniel) merumuskan Hukum Bilangan Besar dan konsep kepastian moral, yang pada dasarnya membuktikan bahwa kita bisa sangat yakin dengan kesimpulan kita jika kita punya cukup banyak data. Kemudian, Abraham De Moivre memberikan jalan pintas yang brilian. Ia menemukan Distribusi Normal (Kurva Lonceng) dan Standar Deviasi. Anggap saja Kurva Lonceng adalah peta sebaran data, sementara Standar Deviasi adalah penggarisnya. Ia memberitahu kita seberapa "normal" atau "aneh" sebuah data dibandingkan rata-ratanya. Alat ini membuat statistik menjadi jauh lebih praktis.
Lalu datanglah Thomas Bayes dengan pemikirannya yang radikal. Ia menciptakan sebuah rumus, yang kini dikenal sebagai Teorema Bayes, yang pada dasarnya adalah model matematis untuk proses belajar. Ia mengajarkan kita cara memperbarui keyakinan awal kita secara sistematis setiap kali ada bukti baru yang masuk. Ini seperti seorang detektif yang terus menyesuaikan teorinya seiring penemuan petunjuk-petunjuk baru.
Salah satu peta paling kuat yang kita miliki adalah Kurva Lonceng. Matematikawan legendaris Carl Friedrich Gauss, saat melakukan survei geodesi atau pengukuran geografis bumi, memperhatikan bahwa kesalahan dalam pengukurannya selalu membentuk pola lonceng yang indah. Penemuan ini memperkuat ide bahwa ada keteraturan di tengah kekacauan. Ide ini kemudian diuji pada pasar saham melalui Hipotesis Langkah Acak (Random Walk Hypothesis), yang menyatakan bahwa pergerakan harga saham itu acak. Hasilnya? Memang sangat mirip dengan Kurva Lonceng, tetapi dengan satu catatan penting: pasar saham memiliki lebih banyak kejadian ekstrem di ujung kurva. Ini adalah bukti matematis adanya Black Swan.
Selanjutnya, kita bertemu dengan Francis Galton, seorang jenius yang terobsesi dengan pengukuran. Dalam usahanya membuktikan teori eugenika dengan meneliti kacang polong manis, ia malah menemukan sesuatu yang berlawanan. Ia menemukan fenomena regresi ke rata-rata. Artinya, hasil yang ekstrem, baik sangat bagus maupun sangat buruk, cenderung akan diikuti oleh hasil yang lebih mendekati normal pada percobaan berikutnya. Namun, penting untuk diingat bahwa ini adalah pola statistik, bukan hukum alam yang pasti. Presiden Herbert Hoover membuat kesalahan fatal saat Depresi Besar karena ia mengira ekonomi akan otomatis pulih ke kondisi "normal," padahal krisis tersebut telah mengubah "rata-rata" itu sendiri.
Jadi, apakah semuanya hanya soal keberuntungan? Bernstein dengan tegas menolaknya. Keberuntungan, katanya, hanyalah nama yang kita berikan pada ketidaktahuan kita. Teori Kekacauan (Chaos Theory) dari Poincaré menunjukkan bagaimana peristiwa yang tampak acak sebenarnya bisa dipicu oleh gangguan yang sangat kecil dan tidak teramati. Namun, kita tidak akan pernah punya informasi yang lengkap. Di sinilah Frank Knight dan John Maynard Keynes memberikan pembeda yang sangat penting. Mereka memisahkan antara Risiko, yang bisa diukur probabilitasnya, dengan Ketidakpastian Sejati, yang unik dan tidak bisa dihitung. Sebagian besar keputusan besar dalam hidup berada di wilayah ketidakpastian. Justru karena adanya ketidakpastian inilah pilihan kita menjadi berarti. Jika semua sudah pasti, kita hanyalah boneka takdir.
Lalu, bagaimana kita membuat keputusan jika hasilnya bergantung pada pilihan orang lain? Selamat datang di dunia Teori Permainan (Game Theory). Risiko kini datang dari interaksi strategis. Teori ini mengajarkan kita beberapa prinsip. Pertama, utamakan untuk tidak kalah daripada menang mutlak, ini disebut prinsip maximin. Kedua, terkadang bersikap tidak terduga adalah senjata terbaik. Ketiga, cari Keseimbangan Nash (Nash Equilibrium), yaitu sebuah kondisi stabil di mana tidak ada pihak yang bisa untung lebih dengan mengubah strateginya sendirian. Bayangkan dua warung makan yang bersebelahan. Mereka sama-sama tidak memulai perang harga karena tahu keduanya akan rugi. Itulah Keseimbangan Nash.
Semua konsep ini akhirnya bertemu di dunia investasi modern. Harry Markowitz dengan Teori Portofolio Modern-nya menunjukkan bagaimana kita bisa mengukur risiko portofolio menggunakan varians dan standar deviasi, lalu menguranginya lewat diversifikasi, termasuk dengan berinvestasi di pasar internasional. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh Daniel Kahneman dan Amos Tversky melalui Teori Prospek mereka, manusia tetaplah makhluk irasional. Kita lebih benci kehilangan daripada senang mendapatkan keuntungan, sebuah bias yang disebut loss aversion.
Terakhir, kita berkenalan dengan alat paling canggih sekaligus paling berbahaya, yaitu derivatif. Sejak zaman perdagangan opsi tulip di Belanda hingga penemuan rumus harga opsi oleh Fischer Black dan Myron Scholes pada 1973, derivatif bisa menjadi alat pelindung (hedging) atau senjata spekulasi. Jika digunakan dengan benar, ia bisa melindungi perusahaan dari ketidakpastian. Tapi jika disalahgunakan untuk berjudi, hasilnya bisa menjadi bencana, seperti yang dialami perusahaan raksasa Procter & Gamble yang rugi besar karena bertaruh pada suku bunga.
Pada akhirnya, setelah semua perjalanan ini, Bernstein menutupnya dengan sebuah pengingat yang kuat dalam bab berjudul "Awaiting the Wildness." Kita harus bisa membedakan antara risiko yang terukur dan ketidakpastian sejati yang liar dan tak terduga. Kesalahan terbesar adalah menganggap semua ketidakpastian sebagai risiko yang bisa dihitung dengan model matematika canggih, seperti yang terjadi sebelum krisis 2008. Model kita hanyalah peta, dan peta bukanlah wilayahnya. Dunia nyata akan selalu punya kejutan. Tugas kita bukanlah untuk meramal masa depan, melainkan untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam menghadapi ketidakpastian, dengan kesadaran penuh bahwa kita tidak akan pernah tahu segalanya, dan justru di sanalah letak tantangan dan keindahan hidup.
Komentar
Posting Komentar