IQ SEBAGAI BERHALA PENGANTAR JALAN MENUJU NERAKA

Suatu hari kami sedang duduk ramai-ramai menikmati sebotol anggur merah dan beberapa batang rokok, hari sudah cukup malam saat itu dan tiba-tiba teman saya nyeletuk. Enak ya kalau jadi orang pintar, kayaknya semua masalah bisa selesai termasuk masalah keuangan. Teman saya ini, sebut saja Roy (Nama Samaran), ia percaya jika seseorang memiliki kecerdasan dikepalanya maka ia bisa menyelesaikan berbagai permasalahan termasuk permasalahan keuangan. Saat itu, ia memberi contoh teman lainnya yang lulusan NUS, sudah memiliki bisnis yang bagus sementara dirinya yang hanya lulusan STIE masih begitu-begitu saja hidupnya dengan mengadu nasib sebagai ojol.

Sepanjang malam saya mendengarkan ocehannya, ia meluapkan semua kekesalahannya bahwa kegagalannya bukanlah karena dirinya tetapi karena faktor X yaitu kecerdasan. Saya tentu tak setuju, tetapi saya tak membantahnya, saya menaruh simpati dan saya sadar bahwa bukan saat yang tepat menasehatinya apalagi membantahnya didepan umum. Saya tidak ingin menyakitinya karena saya sadar bahwa ia sedang membangun coping mechanism dengan mencari kambing hitam agar kegagalan hidupnya tak terlihat seperti salahnya sendiri.

Saya sendiri tidak setuju karena saya tahu persis bahwa tidak semua orang pintar itu sukses dan tidak semua orang gagal itu sukses walaupun saya tidak tahu dengan pasti angkanya, saya pernah berusaha mencari data statistik tentang berapa banyak orang dengan IQ tinggi yang sukses didunia dan bagaimana perbandingannya dengan orang yang IQnya biasa saja, saya bahkan mencoba mencarinya untuk wilayah Indonesia juga dan saya tidak menemukan datanya. Tentu, tanpa data maka kita tidak bisa menilai secara akurat dan presisi tetapi saya juga menyadari bahwa tidak mudah mengumpulkan data seperti itu karena selain alasan pendanaan, ada hal-hal etis yang sulit karena akan membicarakan IQ seseorang akan menimbulkan berbagai kontroversi.

Selain karena melihat langsung bahwa ada orang pintar yang tidak sukses, alasan lain yang membuat saya tidak setuju dengannya adalah karena ia melihat dunia hitam putih dimana pintar pasti sukses sedangkan bodoh pasti gagal. Saya sendiri melihat dunia ini dengan kompleksitasnya, sukses seseorang termasuk ekonomi tidak dipengaruhi oleh satu hal saja termasuk kepintaran namun ada berbagai faktor lain seperti modal dari orangtua, support keluarga dan lingkungan, kesehatan yang mendukung, ekonomi negara dan situasi politik yang stabil, berada pada timing yang tepat, semuanya menjadi faktor potensi membuat seseorang menjadi suskes sekaligus menjadi faktor risiko kegagalan.

Saya pernah membaca sebuah buku yang sangat bagus karya David Robson yang berjudul "The Intelligence Trap: Why Smart People Make Dumb Mistakes and How to Make Wiser Decisions", saya katakan buku ini sangat bagus karena biasanya yang dikritik adalah hal-hal yang dianggap buruk tetapi penulis dengan berani mengkritik hal yang dianggap baik dimana dalam hal ini adalah kecerdasan. Tentu mayoritas orang akan sepakat kalau kecerdasan atau kepintaran itu dianggap baik karena kalau dianggap buruk maka tidak mungkin orangtua mau menyekolahkan anaknya bahkan banting tulang mencari uang hanya untuk menyekolahkan anaknya.


Walaupun memang tidak ada buku yang sempurna termasuk buku David Robson, pada Introduction David langsung menyajikan contoh ekstrim yakni Kary Mullis, bagi Anda yang tidak tahu siapa itu Kary Mullis, dia ini adalah ilmuwan peraih Nobel atas Masterpiecenya yang kita kenal sebagai Polymerase Chain Reaction (PCR). PCR yang Anda mungkin dengar pada saat wabah COVID-19 menyerang dunia, ya itu adalah PCR yang sama yang saya maksud sebagai Master Piece dari Karry Mullis. Penemuannya ini sangat revolusioner dalam dunia biologi sehingga beberapa ilmuwan membagi era penelitian biologi menjadi dua: "sebelum Mullis" dan "setelah Mullis".



Walaupun dikenal karena kecerdasannya, penulis mengatakan kalau Kary Mullis ini terjebak dalam kecerdasannya karena ia percaya hal-hal yang absurd. Salah satu yang dianggap Absurd oleh penulis adalah karena Kary Mullis ini percaya bahwa ia pernah diculik oleh alien. Pada bagian ini tentu saya tidak sepemahaman dengan penulis, pertama karena contoh yang ia berikan adalah outlier ekstrim untuk menggambarkan distribusi normal orang cerdas atau orang pintar, kedua karena kepercayaan Kary Mullis tidak dapat diverifikasi dan difalsifikasi dan hal-hal yang tidak dapat diverifikasi dan difalsifikasi bukan berarti salah. Ingat peristiwa Black Death dimasa-masa kegelapan bangsa eropa, tidak satupun bisa memverifikasi dan memfalsifikasi bahwa penyebab Black Death adalah bakteri Yersinia Pestis yang ada dikutu tikus, tapi bukan berarti bakteri itu tidak ada.

Namun, seperti yang saya katakan, ditengah kekurangannya, buku ini bagus, melalui buku ini sang penulis yakni si David Robson ingin menyampaikan bahwa definisi "kecerdasan" yang kita anut selama ini, yang didasarkan pada tes IQ, sangatlah sempit, keliru, dan tidak cukup untuk memprediksi kesuksesan atau kebijaksanaan seseorang dalam kehidupan nyata. Penulis mau pembaca tahu bahwa kita telah terjebak dalam gagasan usang yang dipopulerkan oleh Lewis Terman, dan sudah saatnya kita melihat kecerdasan dengan cara yang lebih luas dan lebih akurat.


Jika kamu tidak tahu Lewis Terman, Lewis Terman ini adalah orang yang terkenal karena studinya terhadap anak-anak ber-IQ sangat tinggi, yang dijuluki "The Termites". Terman percaya bahwa IQ adalah segalanya dimana IQ dijadikan sebuah ukuran "kecerdasan umum" bawaan yang akan menentukan seluruh jalan hidup seseorang, mulai dari karier hingga karakter moral. Sistem pendidikan yang sering kita lihat termasuk tes-tes standar modern (seperti SAT dan GRE) berakar pada gagasan Terman ini.

Lalu dimana letak masalahnya?

David Robson mengurai ini dengan sangat detail. Robson memaparkan bahwa banyak dari anak-anak jenius dalam studi Terman tidak mencapai kesuksesan luar biasa yang diharapkan. Dua anak dengan IQ tertinggi (192), Beatrice dan Sara Ann, justru berakhir dengan karier yang biasa saja dan kehidupan yang tidak memuaskan. Sebaliknya, anak dengan IQ lebih rendah seperti Jess Oppenheimer (pencipta acara TV I Love Lucy dan penemu teleprompter) justru sangat sukses. Robson menekankan bahwa di dunia profesional, IQ memang memberi keuntungan, tetapi hanya menyumbang sekitar 29% dari variasi kinerja seseorang. Banyak orang dengan IQ lebih rendah yang mengungguli mereka yang ber-IQ lebih tinggi.




Robson ingin pembaca bukunya sadar bahwa IQ bukanlah penentu takdir. Ia hanya mengukur satu jenis kemampuan berpikir. Terlalu fokus pada IQ membuat kita mengabaikan keterampilan lain yang sama (atau bahkan lebih) pentingnya untuk sukses dan membuat keputusan yang baik.

Lalu Anda pasti bertanya, kalau begitu, apa solusi yang ditawarkan oleh David Robson?

Robson menawarkan model yang ia anggap lebih baik, yakni model dari psikolog Robert Sternberg, yaitu Teori Tiga Kecerdasan (Triarchic Theory of Successful Intelligence). Sternberg, yang saat kecil dianggap bodoh karena skor IQ-nya yang rendah, berpendapat bahwa kecerdasan sejati terdiri dari tiga komponen:

  1. Kecerdasan Analitis: Kemampuan "akademis" yang diukur oleh tes IQ. Contohnya adalah Alice, murid yang nilainya sempurna tapi tidak punya ide kreatif.

  2. Kecerdasan Kreatif: Kemampuan untuk berimajinasi, menemukan hal baru, dan menghasilkan ide-ide orisinal. Contohnya adalah Barbara, yang nilainya tidak spektakuler tapi idenya cemerlang.

  3. Kecerdasan Praktis: "Akal sehat" atau street smarts. Kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata, merencanakan, dan membuat sesuatu terjadi secara efisien. Contohnya adalah Celia, yang sangat pragmatis dan pandai mengeksekusi ide.

Robson ingin pembaca memahami bahwa untuk benar-benar sukses dan bijaksana, seseorang membutuhkan keseimbangan dari ketiga jenis kecerdasan ini. Terjebak hanya pada kecerdasan analitis (IQ) akan menghasilkan "teknisi yang baik tanpa akal sehat," seperti yang dikatakan Sternberg.

saat membaca ini, saya tentu langsung memiliki beberapa pertanyaan.

  1. Apakah Robson punya data tandingan? Misalnya, 1000 anak berIQ tinggi yang sukses sekian persen jika dibandingkan kesuksesan 1000 anak berIQ rendah.
  2. Apakah setelah sukses, anak-anak tadi diukur kembali IQnya? mengingat otak sangat plastis dan mungkin IQ anak yang dianggap rendah meningkat seiring waktu dan IQ anak yang dianggap cerdas terdegradasi seiring waktu.
  3. Apakah model Teori Tiga Kecerdasan (Triarchic Theory of Successful Intelligence) diukur oleh Robson secara ilmiah? misalnya menetapkan parameter yang ketat lalu menguji 1000 orang dengan skor tertinggi serta menguji 1000 orang dengan skor terendah kemudian membandingkan hasilnya 10 tahun atau 20 tahun kemudian.
Yang saya sayangkan ternyata Robson tidak punya data tandingan, ia bahkan mengakui riset Terman yang membandingkan pencapaian para Termites dengan statistik rata-rata populasi Amerika pada saat itu (misalnya, pendapatan rata-rata, tingkat kelulusan universitas). Secara grup, para Termites memang lebih sukses daripada rata-rata. Namun Robson berargumen bahwa di dalam grup ber-IQ sangat tinggi itu sendiri, tingkat kesuksesan sangat bervariasi dan tidak sehebat yang Terman ramalkan. Ia menyoroti fakta bahwa banyak Termites yang gagal memenuhi potensi luar biasa mereka, dan sebagian lagi memiliki kehidupan yang biasa-biasa saja.

Namun pertanyaan nomor 1 saya nampaknya memang dimenangkan oleh Robson, data Terman memang terbukti tidak akurat karena menghasilkan variasi hasil yang sangat besar, termasuk tingkat kegagalan yang substansial. Memang ada sekitar 150 pria yang dinilai memiliki karier profesional yang cemerlang (dokter, pengacara, profesor, eksekutif tingkat tinggi) tapi ada juga sekitar 150 pria yang pekerjaannya jauh di bawah potensi mereka, seperti tukang, juru tulis, atau bahkan ada yang menjadi "gelandangan" dan melakukan tindak kriminal. Padahal semua sampel itu adalah orang-orang ber-IQ tinggi dari kelompok observasi Terman.

Walaupun demikian, pertanyaan nomor 2 saya bisa dijawab dengan memuaskan, Para "Termites" ternyata diukur kembali IQ-nya beberapa kali sepanjang hidup mereka, termasuk pada tahun 1940 dan 1952. Robson kuat disini, fakta bahwa IQ mereka tetap tinggi namun banyak dari mereka tidak mencapai kesuksesan luar biasa, dan bahkan terjebak dalam kesalahan berpikir (seperti yang didokumentasikan Robson), menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada penurunan IQ.

Mengenai pertanyaan nomor 3 saya, Robson tidak mengukur langsung dan saya memaklumi ini karena ia bukan saintis melainkan jurnalis sains. Walaupun demikian Robson mengandalkan hasil dari beberapa proyek penelitian besar yang dipimpin oleh Sternberg. Penelitian ini secara konkret menunjukkan nilai tambah dari mengukur kecerdasan kreatif dan praktis. Salah satu studi paling terkenal adalah The Rainbow Project dimana tujuan dari project ini adalah untuk melihat apakah tes yang mengukur kecerdasan analitis, kreatif, dan praktis dapat memprediksi prestasi mahasiswa baru lebih baik daripada tes standar (SAT) saja.

Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas mengikuti tes standar (SAT) dan tes tambahan yang dirancang Sternberg untuk mengukur Kreativitas dan hal-hal praktis seperti menyelesaikan skenario masalah di kehidupan nyata, seperti "Bagaimana cara Anda meyakinkan teman sekamar yang berantakan untuk membersihkan kamarnya?" dan hasilnya ternyata mengejutkan karena hanya dengan menambahkan skor tes kreatif dan praktis ke skor SAT ternyata menggandakan akurasi prediksi untuk nilai (IPK) mahasiswa di tahun pertama.

Lalu, apa sih yang menyebabkan orang ber-IQ tinggi ini gagal?

Walaupun saya menyebut bahwa sukses dan gagalnya seseorang diawal tulisan ini sebagai sesuatu yang kompleks namun David Robson mencoba mensimplifikasinya. Pertama, Robson mengatakan kalau orang ber-IQ tinggi kadang tidak berpikir rasional, mungkin Anda juga kaget sama seperti saya ketika membacanya, saya bahkan mengulangnya sampai 4X untuk memastikan saya tidak salah menerjemahkan maksud Robson. Robson mengatakan bahwa kecerdasan (seperti yang diukur oleh IQ) dan Rasionalitas (kemampuan untuk berpikir lurus dan membuat keputusan berdasarkan bukti) adalah dua hal yang sama sekali berbeda dan seringkali tidak berhubungan.

Robson bahkan menegaskan sebagai inti pikirannya bahwa memiliki kecerdasan tinggi tidak membuat seseorang kebal dari pemikiran irasional; malah, kecerdasan itu bisa menjadi "perangkap" yang membuat orang lebih terjerat dalam keyakinan yang salah. Robson membuka argumentasi ini dengan kisah nyata yang sangat kontras. Arthur Conan Doyle, seorang dokter dan penulis jenius (pencipta Sherlock Holmes, ikon logika deduktif), justru sangat mudah tertipu oleh hal-hal spiritual dan paranormal. Sebaliknya, Harry Houdini, seorang pesulap yang pendidikannya rendah, mampu melihat penipuan tersebut dengan logika sederhana. Ini adalah contoh sempurna dari "dysrationalia" dalam kehidupan nyata.

menunjukkan bahwa kecerdasan Conan Doyle tidak membantunya, malah menjerumuskannya. Ia menggunakan otaknya yang brilian bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menciptakan argumen-argumen yang semakin rumit dan fantastis demi membela keyakinannya yang salah. Ini adalah inti dari "perangkap kecerdasan" yang ia maksudkan pada judul bukunya. Robson bahkan mengutip karya Daniel Kahneman dan Amos Tversky tentang bias kognitif. Ia memberikan contoh-contoh yang mudah dipahami seperti Anchoring (terpaku pada informasi pertama), Framing (cara informasi disajikan memengaruhi keputusan), dan Gambler's Fallacy. Ini untuk menunjukkan bahwa otak kita secara alami memiliki "cacat" dalam berpikir rasional.




Robson bahkan menyajikan Bukti Kuantitatif, Robson mengutip Keith Stanovich yang secara spesifik mengukur hubungan antara kecerdasan (IQ/SAT) dan rasionalitas. Hasilnya sangat mengejutkan:
  1. Korelasi Sangat Lemah: Hubungan antara skor tes kecerdasan dan kemampuan untuk menghindari bias kognitif sangatlah rendah.

  2. "Bias Blind Spot": Orang yang lebih cerdas justru cenderung lebih tidak sadar akan bias mereka sendiri. Mereka merasa karena mereka "pintar", mereka pasti lebih unggul dalam semua tugas kognitif, termasuk berpikir rasional.

Namun demikian, ketika membaca ini, saya tetap saja mengajukan pertanyaan, jika Robson memberikan argumentasi Conan Doyle vs Houdini, apakah Robson dapat memastikan bahwa kedua contoh ini bukan outlier dan ini berlaku pada distribusi normal? Karena jika irasional juga berlaku pada orang dengan IQ rendah maka IQ tinggi tidak dapat disalahkan sebagai tempat utama rasionalitas, selain itu, mengatakan Houdini berpendidikan rendah tidak menggambarkan apakah Houdini memiliki IQ yang rendah atau tinggi.

Ketika mencari jawaban tersebut di buku itu, di internet, saya tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Saya anggap saja bahwa contoh Conan Doyle vs Houdini adalah contoh yang tidak dapat diterima sebagai data karena mungkin saja Conan Doyle vs Houdini adalah perbandingan dari angka outlier. Namun, saya mencoba untuk menangkap maksud Robson, mungkin saja yang dimaksud Robson adalah Masalah diskoneksi. Saya akan cobe menjelaskan ini, tetapi perlu diingat bahwa ini adalah asumsi saya dan saya tidak pernah bertemu dan berdiskusi langsung dengan Robson sehingga mungkin saja apa yang saya asumsikan salah.

Yang saya maksud dengan masalah diskoneksi adalah begini, tidak ada yang terkejut jika seseorang dengan IQ rendah atau pendidikan minim membuat keputusan yang tidak rasional. Namun, sangat mengejutkan dan berlawanan dengan intuisi ketika seseorang yang sangat cerdas (seperti dokter, ilmuwan, atau profesor) melakukan hal yang sama. Inilah "perangkap" yang dibicarakan.

Selain itu, yang saya tangkap dan semoga tidak salah, mungkin saja Robson ingin menyampaikan kalau orang cerdas lebih lihai dalam menggunakan otaknya untuk membangun argumen yang rumit dan meyakinkan demi membela keyakinan irasionalnya. Jadi, kontras yang dibangun penulis bukanlah "IQ Tinggi vs. IQ Rendah". Kontrasnya adalah "Kecerdasan Akademis/Teoretis (Doyle) vs. Kecerdasan Praktis/Dunia Nyata (Houdini)". Namun saya ingatkan sekali lagi untuk para pembaca sekalian bahwa apa yang saya sampaikan murni adalah asumsi saya dan saya tidak mungkin lepas dari bias karena saya adalah manusia yang punya value yang dianut.

Melalui penjelasannya, Robson tampaknya ingin menyampaikan kalau kecerdasan seringkali tidak digunakan sebagai alat untuk mencari kebenaran, melainkan sebagai senjata untuk membela keyakinan yang sudah kita pegang, terutama jika keyakinan itu terkait dengan identitas kita.

Robson bahkan mengutip penelitian Wändi Bruine de Bruin yang menemukan bahwa skor rasionalitas 3 kali lebih penting daripada skor IQ dalam memprediksi apakah seseorang akan mengalami kejadian buruk dalam hidup (terlilit utang, masuk penjara, terkena penyakit menular seksual, dll.). Robson bahkan memberi contoh nyata dimana orang ber-IQ tinggi cenderung mengonsumsi lebih banyak alkohol/narkoba dan sama mungkinnya mengalami kesulitan finansial. Kisah fisikawan brilian Paul Frampton yang tertipu menjadi kurir narkoba adalah contoh ekstrem yang disajikan Robson untuk menggambarkan bagaimana kecerdasan akademis tidak melindungi dari keputusan hidup yang fatal.

Robson bahkan menambahkan jika orang cerdas bisa salah bukan karena  Berpikir Terlalu Sedikit, tapi Terlalu Banyak (dengan Cara yang Salah). Robson menjelaskan bahwa hal ini berbeda dari bias kognitif biasa (yang terjadi karena berpikir cepat/malas), di sini orang cerdas secara aktif menggunakan kemampuan analitisnya (System 2) untuk merasionalisasi keyakinan yang salah. Robson bahkan kembali menjadikan Arthur Conan Doyle sebagai contoh dimana  Arthur Conan Doyle bisa tertipu foto peri buatan anak-anak adalah contoh sempurna. Ia tidak hanya tertipu, ia secara aktif menggunakan kecerdasannya untuk menciptakan penjelasan ilmiah yang rumit demi membela kepercayaannya (misalnya, melihat peniti sebagai pusar peri).

Robson juga mengutip David Perkins ("Myside Bias") dan disinilah yang menjadi poin mengapa saya katakan bahwa buku Robson ini bagus karena ia membangun sebuah argumentasi ilmiah yang kuat tetapi dapat menjelasakannya dengan sederhana. David Perkins menemukan bahwa orang cerdas tidak lebih baik dalam melihat "sisi lain" dari suatu argumen; mereka hanya lebih baik dalam memberikan pembenaran untuk sisi mereka sendiri. Selain itu, Robson juga mengutip penelitian Dan Kahan (Gun Control & Climate Change) dimana ditemukan bahwa kemampuan berhitung (numeracy) yang tinggi hanya membantu seseorang menginterpretasikan data dengan benar jika hasilnya sesuai dengan keyakinan politik mereka. Jika data bertentangan, kecerdasan mereka tidak membantu, bahkan bisa membuat mereka lebih yakin pada kesimpulan yang salah. Inilah sebabnya, dalam isu perubahan iklim, orang konservatif yang paling terpelajar secara ilmiah justru yang paling skeptis.



Robson bahkan secara radikal ingin menyampaikan kalau "Tidak Ada yang Kebal, Bahkan Para Jenius Sekalipun." Robson bahkan memberikan contoh orang yang dianggap paling jenius yaitu Albert Einstein, Robson menggunakan 25 tahun terakhir kehidupan Einstein, di mana ia gagal total dalam usahanya menciptakan "Unified Theory" sebagai contoh utama. Einstein, sang ikon jenius, menjadi tuli terhadap bukti-bukti baru (seperti fisika kuantum) yang bertentangan dengan idenya yang sudah ia "investasikan" begitu dalam (sunk cost fallacy).



Robson juga secara serius menyerang para peraih Nobel yang memiliki pemikiran yang dianggapnya absurd, Robson memperkenalkan istilah "Penyakit Nobel" dimana istilah ini ia gunakan untuk menggambarkan pola di mana para pemenang Hadiah Nobel (seperti Kary Mullis, Linus Pauling, Luc Montagnier) menggunakan status mereka untuk mendukung teori-teori aneh di luar bidang keahlian mereka. Bahkan para inovator tidak luput dari pisau pikiran Robson, Robson menunjukkan pola yang sama pada Thomas Edison (yang secara membabi buta melawan arus listrik AC) dan Steve Jobs (yang "medan distorsi realitas"-nya membuatnya menolak pengobatan medis untuk kankernya).

Anda mungkin bertanya, mengapa orang-orang cerdas bahkan begitu rentan terhadap irasionalitas yang merugikan?

Robson tentu tahu bahwa pertanyaan ini akan muncul dan tentu ia sudah menyiapkan jawabannya. Robson meminjam teori Mercier & Sperber untuk menjelaskan ini, teori ini menyatakan bahwa akal manusia tidak berevolusi untuk berpikir logis sendirian di dalam gua. Akal manusia berevolusi untuk satu tujuan utama: berinteraksi dan bersaing dalam kelompok sosial.

Robson menempatkan Akal sebagai 'Pengacara' dalam penjelasannya, dalam konteks ini, fungsi utama akal adalah untuk (a) meyakinkan orang lain (persuasi) dan (b) waspada agar tidak ditipu orang lain. Untuk meyakinkan orang lain, manusia secara alami cenderung mengumpulkan semua bukti yang mendukung argumen kita (myside bias). Untuk waspada, manusia cenderung sangat skeptis terhadap argumen orang lain.

Namun Robson juga menegaskan dalam idenya bahwa Bias Bukanlah 'Bug', Tapi 'Fitur' Jadi, bias pemikiran kita bukanlah sebuah kesalahan desain. Itu adalah fitur yang sangat berguna untuk bertahan hidup dan sukses dalam lingkungan sosial nenek moyang kita.

Saya tentu menjadi meragukan expert setelah membaca penjelasan Robson sejauh itu dan ketika saya membalik halaman, benar saja dugaan saya, Robson mulai menguliti para Expert dibagian yang berjudul The curse of knowledge: The beauty and fragility of the expert mind. Ide Pokok yang ingin disampaikan oleh Robson bahwa Keahlian (expertise) itu adalah pedang bermata dua. Proses mental yang membuat seorang ahli menjadi sangat efisien dan intuitif adalah proses yang sama yang membuat mereka menjadi kaku, buta terhadap detail, dan sangat rentan terhadap bias. Inilah yang ia maksud sebagai Kutukan Pengetahuan dimana semakin seseorang ahli, semakin besar pula potensi Anda untuk melakukan kesalahan fatal yang tidak akan dilakukan oleh seorang pemula.

Robson membuka argumentasinya dengan kisah nyata yang mengerikan tentang Brandon Mayfield, seorang pengacara yang ditangkap oleh FBI untuk kasus terorisme bom Madrid berdasarkan bukti sidik jari yang "100% cocok" menurut para ahli forensik terbaik dunia. Namun ternyata Kepolisian Spanyol berhasil mengidentifikasi pemilik sidik jari yang sebenarnya, seorang warga Aljazair bernama Ouhnane Daoud. Sidik jari Daoud jauh lebih cocok daripada milik Mayfield dan akhirnya Mayfield dibebaskan.

Awalnya saya berpikir bahwa mungkin sidik jarinya identik dan saya mulai meragukan sains dibalik sidik jari namun ternyata ceritanya tidak demikian. Cerita sebenarnya adalah Sidik jari yang ditemukan di Madrid bukanlah sidik jari yang bersih dan lengkap. Sidik jari itu ada di kantong plastik yang kusut, tercoreng, dan sulit dibaca. Kondisi yang tidak sempurna ini membuka ruang yang sangat besar untuk interpretasi dan kesalahan. Selain itu, setelah komputer FBI menyarankan Brandon Mayfield sebagai salah satu dari 20 kandidat potensial, para ahli mulai bekerja dengan hipotesis awal: "Mungkinkah ini sidik jari Mayfield?" Sejak saat itu, otak mereka secara tidak sadar tidak lagi menganalisis secara objektif, melainkan mulai mencari-cari bukti yang mendukung kecocokan dan mengabaikan yang sebaliknya.

Alih-alih menyimpulkan bahwa ini bukan orang yang sama, para ahli justru membuat rasionalisasi. Mereka berteori, "Oh, mungkin bagian yang tidak cocok ini adalah tumpukan dari sidik jari orang lain," atau "Mungkin ini dari jari Mayfield sendiri yang menyentuh dua kali dengan posisi berbeda." Laporan investigasi setelahnya menyatakan bahwa penjelasan ini membutuhkan "serangkaian kebetulan yang luar biasa" dan menyebutnya sebagai "lubang yang menganga dalam argumen."

Lebih parahnya lagi setelah mereka menetapkan Mayfield sebagai tersangka utama, mereka menyelidiki latar belakangnya dan menemukan bahwa ia seorang mualaf. Dalam iklim Islamofobia pasca 9/11, informasi ini kemungkinan besar memperkuat bias mereka secara tidak sadar, membuat mereka semakin yakin bahwa mereka telah menemukan "orang yang tepat".

Kesalahan fatal ini menjadi jangkar untuk seluruh argumen Robson.

Masalahnya terletak pada Overconfidence Para Ahli. Berbeda dari Efek Dunning-Kruger (di mana hanya orang tidak kompeten yang super percaya diri), Robson menunjukkan bahwa para ahli memiliki jenis kepercayaan diri yang berbeda dan berbahaya:
  1. "Earned Dogmatism" (Dogmatisme yang Terpelajar): Mereka merasa telah "mendapatkan hak" untuk menjadi dogmatis dan tertutup pada pandangan lain karena keahlian mereka.

  2. "Meta-forgetfulness": Mereka lupa seberapa banyak yang telah mereka lupakan, dan menyamakan pengetahuan mereka saat ini dengan pengetahuan puncak mereka di masa lalu.

Robson bahkan menjelaskan dasar neurosains di baliknya. Robson menjelaskan bahwa otak seorang ahli tidak lagi melihat detail-detail kecil. Melalui proses yang disebut "chunking", mereka melihat "pola" atau "schemas" yang bermakna. Ini sangat efisien (seperti grandmaster catur yang bermain sambil ditutup matanya), tetapi ada harga yang harus dibayar.

  1. Kehilangan Fleksibilitas: Sulit beradaptasi dengan perubahan karena terlalu terikat pada skema yang sudah ada.
  2. Kehilangan Detail: Otak secara otomatis menyaring detail-detail kecil yang tidak sesuai dengan pola yang diharapkan.

  3. Kerentanan terhadap Bias: Pemrosesan berbasis "pola" ini sangat mudah dipengaruhi oleh ekspektasi, emosi, dan bias kognitif seperti confirmation bias.

Poin lain yang membuat saya suka dengan buku ini karena Robson tidak hanya menunjukan kesalahan tetapi ia menawarkan solusi dari kesalahan itu, ia tidak hanya membongkar tetapi ia berikan bahan untuk membangun kembali. Robson di Part II bagian 4 bukunya ingin menyampaikan kalau solusi dari semua permasalahan ini adalah Kebijaksanaan. Robson ingin menyampaikan kepada semua pembacanya kalau kebijaksanaan bukanlah konsep spiritual atau bakat bawaan yang misterius, melainkan seperangkat keterampilan berpikir rasional yang dapat diukur, dipelajari, dan dilatih secara ilmiah.

Robson sebagai penulis ingin memperkenalkan sebuah disiplin ilmu baru yang ia sebut "Kebijaksanaan Berbasis Bukti" (Evidence-Based Wisdom). Robson membuka argumentasi untuk solusi yang ia tawarkan dengan kisah Benjamin Franklin di Konvensi Konstitusi AS. Franklin ditampilkan sebagai perwujudan kebijaksanaan praktis: ia rendah hati ("meragukan infalibilitasnya sendiri"), pragmatis, pencari kompromi, dan mampu mengelola emosi. Franklin menjadi model ideal dari apa yang ingin dicapai.

Robson juga mengakui kalau ia terinspirasi dari seiorang psikolog yang bernama Igor Grossmann sebagai fondasi ilmiahnya. Grossmann "membedah" kebijaksanaan menjadi komponen-komponen yang bisa diukur, seperti:

  1. Kerendahan Hati Intelektual: Sadar akan keterbatasan pengetahuan kita.

  2. Mempertimbangkan Perspektif Lain: Kemampuan untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang.

  3. Mencari Kompromi: Fokus pada resolusi konflik.

  4. Menyadari Perubahan: Memahami bahwa situasi bisa berubah. Penelitian Grossmann menunjukkan bahwa skor "penalaran bijak" ini jauh lebih baik dalam memprediksi kebahagiaan dan kesuksesan hidup daripada skor IQ, dan keduanya hampir tidak berhubungan.

tidak hanya berteori, ia memberikan dua teknik konkret:

  1. "Aljabar Moral" Benjamin Franklin: Ini adalah metode sistematis untuk membuat keputusan dengan mendaftar pro dan kontra, menimbangnya, dan yang terpenting, secara aktif "mempertimbangkan sisi sebaliknya" (consider the opposite) untuk melawan bias awal kita.

  2. Mengatasi "Paradoks Solomon" dengan "Self-Distancing": Paradoks Solomon adalah fakta bahwa kita lebih bijak dalam menasihati orang lain daripada menyelesaikan masalah kita sendiri. Solusinya adalah "self-distancing" menciptakan jarak psikologis dengan melihat masalah kita dari sudut pandang orang ketiga (misalnya, "Apa yang akan saya sarankan untuk teman saya dalam situasi ini?").

Bagi para pembaca yang belum pernah mendengar Paradoks Salomon, saya akan menjelaskannya karena saya anggap ini adalah hal yang cukup penting untuk diketahui. Paradoks ini dinamai berdasarkan kisah Raja Salomo (King Solomon) dari Alkitab, yang dikenal sebagai raja paling bijaksana di dunia. Ketika dihadapkan pada masalah orang lain, kebijaksanaan Solomon tidak tertandingi. Kisah paling terkenal adalah ketika dua orang ibu memperebutkan seorang bayi. Solomon dengan bijak memerintahkan agar bayi itu dibelah dua, karena ia tahu ibu yang sesungguhnya lebih memilih menyerahkan anaknya daripada melihatnya mati. Keputusannya ini menjadi lambang keadilan dan kebijaksanaan yang imparsial. Orang-orang dari seluruh dunia datang untuk meminta nasihatnya.

Namun, dalam kehidupan pribadinya, Solomon adalah sebuah bencana. Ia dikuasai oleh hawa nafsu (memiliki seribu istri dan selir), menjadi serakah dan tiran, dan begitu sibuk dengan urusannya sendiri sehingga ia gagal mendidik putranya untuk menjadi penerus yang baik. Pada akhirnya, kerajaannya hancur dalam perang dan kekacauan. Jadi, intinya adalah paradoks ini merupakan kecenderungan manusia untuk berpikir jauh lebih bijaksana, rasional, dan objektif ketika mempertimbangkan masalah orang lain, dibandingkan ketika menghadapi masalah pribadi yang serupa.

Tentu saja hal ini bisa terjadi karena manusia menjadi "Terbenam" (Immersed) saat berhadapan dengan masalahnya sendiri. Manusia menjadi berada di tengah-tengah badai emosi. Ego manusia terancam, rasa takut, marah, dan cemas mengambil alih. Berdasarkan hal tersebut, pemikiran manusia menjadi sempit, defensif, dan fokus pada detail-detail sepele yang memicu emosi. Manusia pada akhirnya cenderung menyalahkan orang lain dan sulit melihat gambaran besar. Contohnya: "Beraninya dia bilang begitu padaku! Aku tidak akan terima!"

Namun ketika berhadapan dengan masalah orang lain, manusia menjadi "Pengamat" (Observer) Karena manusia tidak terlibat secara emosional, ego manusia aman. Manusia bisa melihat situasi dari luar. Berdasarkan hal tersebut maka pemikiran manusia menjadi lebih abstrak, logis, dan objektif. manusia bahkan mampu mempertimbangkan berbagai sudut pandang, melihat berbagai kemungkinan hasil, dan mencari kompromi. Manusia bisa dengan mudah berkata kepada temannya, "Coba lihat dari sudut pandangnya, mungkin dia tidak bermaksud begitu."

Kembali ke Robson, jika kamu sudah menikmati logisnya Robson dalam bukunya, kamu akan kaget setelahnya, saya begitu yakin karena saya sama kagetnya setelah membaca bagian 5 bukunya yang berjudul Your emotional compass: The power of self-reflection. Robson intinya mau menyampaikan bahwa emosi dan intuisi (perasaan) bukanlah musuh dari rasionalitas; keduanya adalah sumber data yang esensial. Kunci dari kebijaksanaan bukanlah menekan perasaan, melainkan mengembangkan keterampilan untuk membaca, mengartikan, dan mengelolanya dengan benar.

Bagaimana bisa saya tidak kaget sedangkan dibagian-bagian sebelumnya, Robson terus menerus mengkritisi bagaimana bias bisa muncul dari emosi yang menciptakan ego, namun ketika saya baca ulang dengan perlahan, saya jadi mengerti apa yang mau disampaikan oleh Robson. Robson ingin menyampaikan bahwa intuisi yang kuat bukanlah firasat magis, melainkan produk dari proses non-sadar otak yang didasarkan pada pengalaman. Namun perlu diperhatikan, intuisi ini bisa sangat menyesatkan jika kita tidak memiliki keterampilan reflektif untuk menafsirkannya.

Robson membawakan kisah Ray Kroc yang membangun McDonald's berdasarkan "perasaan di tulang" (funny bone feeling) yang ia digunakan untuk menunjukkan bahwa intuisi bisa sangat berhasil. Jadi ceritanya, pada tahun 1954, rasa penasarannya terusik. Ia menyadari ada satu restoran kecil di San Bernardino, California, yang memesan mesin Multimixer dalam jumlah yang tidak wajar, yaitu delapan buah. Di saat penjualan di restoran lain menurun, restoran milik dua bersaudara, Richard (Dick) dan Maurice (Mac) McDonald ini justru membutuhkan kapasitas untuk membuat 40 milkshake secara bersamaan. Didorong oleh rasa ingin tahu, Kroc berkendara untuk melihat langsung apa yang membuat restoran ini begitu istimewa.

Setibanya di sana, Kroc terpana. Ia tidak melihat restoran pada umumnya. Apa yang ia saksikan adalah sebuah pabrik makanan yang bekerja dengan presisi luar biasa. Inilah yang disebut "Speedee Service System", sebuah sistem revolusioner yang diciptakan oleh McDonald bersaudara. Ray Kroc, dengan pengalamannya sebagai penjual yang telah mengunjungi ratusan dapur restoran, langsung menyadari bahwa ia tidak sedang melihat sebuah restoran biasa. Ia melihat masa depan industri makanan. Inti dari "funny bone feeling" (perasaan di tulang) yang dialami Ray Kroc terjadi pada saat ia menyaksikan secara langsung bagaimana "Speedee Service System" ciptaan McDonald bersaudara bekerja di San Bernardino. Itu bukanlah perasaan yang muncul tiba-tiba tanpa sebab. Perasaan itu adalah puncak dari pemahaman non-sadar yang didasarkan pada pengalamannya selama puluhan tahun.

Robson mengutip teori neurolog Antonio Damasio dan "Hipotesis Somatic Marker" untuk memperjelas hal ini. Teori ini menyatakan bahwa otak non-sadar kita memproses situasi dan mengirim sinyal ke tubuh (detak jantung, perut mulas, keringat dingin). Perasaan fisik inilah yang kita sebut "intuisi" atau "firasat". Namun Robson tidak bosan mengingatkan bahwa ada permasalahan disini, masalahnya adalah sinyal tubuh ini tidak spesifik. Perut mulas bisa berarti "ini investasi yang buruk" atau bisa juga berarti "kita sedang kena flu". Robson menekankan bahwa kecenderungan kita untuk percaya bahwa apa yang kita rasakan adalah cerminan realitas, padahal perasaan itu bisa dipicu oleh hal-hal yang tidak relevan (cuaca buruk, bau tidak sedap, dll.).

Karena adanya permasalahan itu, Robson kemudian menyajikan solusi dimana ia menawarkan tiga keterampilan yang membentuk "kompas emosional" untuk menavigasi sinyal-sinyal ini dengan benar:

  1. Interoception (Merasakan): Kemampuan dasar untuk peka terhadap sinyal-sinyal dari tubuh Anda.

  2. Diferensiasi Emosi (Mengartikan): Kemampuan untuk memberi nama yang tepat dan spesifik pada perasaan Anda (misalnya, membedakan antara "cemas", "kecewa", dan "marah"). Semakin presisi kosakata emosional, semakin baik juga seseorang dalam memahami sumber perasaan dan membuat keputusan (seperti dalam studi tentang investor pasar saham).

  3. Regulasi Emosi (Mengelola): Kemampuan untuk mengelola emosi setelah kita bisa mengidentifikasinya, misalnya dengan teknik self-distancing. Teknik self-distancing sederhananya adalah sebuah strategi mental di mana Anda secara sadar mengambil langkah mundur untuk melihat pengalaman, pikiran, dan perasaan Anda sendiri dari sudut pandang orang luar yang objektif, seolah-olah Anda adalah seorang pengamat, bukan partisipan yang terlibat langsung.

Robson tidak mau sekedar omong kosong, dia berusaha menyajikan bukti ilmiahnya, Robson menunjukkan bagaimana prinsip-prinsip ini diterapkan di dunia kedokteran untuk mengurangi kesalahan diagnosis yang fatal. Robson mengutip penelitian Silvia Mamede yang menunjukkan bahwa dengan melatih dokter untuk melakukan jeda reflektif yaitu (1) mencatat reaksi intuitif pertama mereka, lalu (2) secara sadar menganalisis bukti dan mempertimbangkan alternatif akurasi diagnosis bisa meningkat hingga 40%.

intinya disini, Robson mau bilang jangan abaikan firasat Anda, tetapi jangan juga membabi buta mengikutinya. Tanyakan: "Mengapa saya merasa seperti ini? Apakah perasaan ini relevan dengan keputusan yang ada, atau berasal dari sumber lain?"

untuk melengkapi tools berpikir pembacanya, Robson tidak berhenti disana, dibagian 6 bukunya, Robson memperkenalkan konsep "Truthiness", yaitu kecenderungan kita untuk mempercayai sesuatu karena "terasa benar", bukan karena didukung oleh bukti. "Rasa" ini berasal dari dua hal:
  1. Familiaritas: Kita merasa pernah mendengar hal ini sebelumnya. Repetisi adalah cara paling ampuh untuk menciptakan familiaritas.

  2. Kefasihan (Fluency): Informasi tersebut mudah diproses oleh otak kita (misalnya, karena disajikan dengan font yang jelas, menggunakan rima, atau disertai gambar yang tidak relevan).

Penulis membuka bagian ini dengan menceritakan Kisah hoaks "pisang pemakan daging" (flesh-eating bananas) yang sangat terkenal. jadi ceritanya, pada akhir tahun 1999, sebuah email berantai mulai menyebar dengan sangat cepat walaupun tidak lebih cepat dari Koruptor di Indonesia yang mengambil duit rakyat. Email ini tidak seperti spam biasa; pesannya ditulis dengan nada yang sangat serius dan mendesak.

Isi email tersebut pada dasarnya menyatakan:

  1. Ancaman Mengerikan: Ada penyakit langka bernama necrotising fasciitis (ini adalah penyakit sungguhan, yang membuatnya terdengar lebih kredibel) yang sedang menyebar melalui pisang impor dari Kosta Rika.

  2. Detail yang Mengerikan: Email tersebut dengan gamblang melukiskan kengerian penyakit ini, menyebutkan bahwa penyakit ini "memakan daging dua hingga tiga sentimeter per jam," yang bisa berujung pada "amputasi" atau bahkan "kematian."

  3. Peringatan Mendesak: Penerima email diperingatkan untuk tidak membeli pisang selama tiga minggu ke depan dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami demam diikuti infeksi kulit setelah makan pisang.

  4. Elemen Konspirasi: Bagian paling jenius dari hoaks ini adalah klaim bahwa otoritas pemerintah (FDA - Food and Drug Administration) mengetahui hal ini tetapi sengaja menolak mengeluarkan peringatan nasional karena takut akan kepanikan massal. Email itu bahkan mengklaim FDA secara rahasia menganggap "15.000 korban adalah angka yang dapat diterima."

  5. Panggilan Aksi Moral: Email ditutup dengan permohonan agar penerima meneruskannya ke sebanyak mungkin orang yang mereka sayangi, menyiratkan bahwa menyebarkan pesan ini adalah sebuah tindakan kepedulian.

Dampak Hoax ini tentunya sangat masif. Kepanikan menyebar luas. Otoritas kesehatan seperti Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dibanjiri telepon dari masyarakat yang ketakutan. Robson menggunakan contoh ini karena hoaks "pisang pemakan daging" adalah resep sempurna yang mengandung semua bahan psikologis yang membuat misinformasi menjadi sangat efektif:
  1. Pemicu Emosi yang Kuat: Rasa Takut dan Jijik Otak kita dirancang untuk merespons ancaman. Deskripsi yang gamblang dan visceral ("daging hancur," "amputasi") memicu rasa takut dan jijik yang mendalam. Ketika emosi kita terpicu begitu kuat, kemampuan berpikir kritis dan logis kita cenderung menurun drastis. Kita beralih dari mode "menganalisis" ke mode "bertahan hidup".

  2. Detail yang Terasa Ilmiah dan Kredibel ("Truthiness") Meskipun ceritanya bohong, ia dibungkus dengan detail yang membuatnya terasa nyata dan dapat dipercaya (truthy):

    • Menggunakan Nama Penyakit Asli: Necrotising fasciitis adalah kondisi medis yang benar-benar ada dan mengerikan. Ini memberikan lapisan kredibilitas.

    • Menyebut Otoritas Resmi: Menyebut nama FDA dan CDC membuat pesan tersebut tampak resmi dan penting.

    • Spesifik dengan Angka dan Lokasi: Menyebut "Kosta Rika", "15.000 orang", "2-3 sentimeter per jam" memberikan ilusi bahwa pesan ini didasarkan pada data dan penelitian, bukan sekadar karangan.

  3. Elemen Teori Konspirasi yang Kuat Klaim bahwa pemerintah "sengaja menutupi" kebenaran adalah pemicu psikologis yang sangat kuat. Ini menciptakan narasi "kita vs. mereka". Penerima email merasa menjadi bagian dari kelompok terpilih yang mengetahui "kebenaran tersembunyi", sementara pemerintah digambarkan sebagai entitas jahat yang tidak peduli pada rakyatnya. Ini membuat orang lebih percaya pada email tersebut daripada pada bantahan resmi dari pemerintah.

  4. Kegagalan Upaya Debunking Ketika CDC mengeluarkan pernyataan resmi yang membantah hoaks tersebut, hal itu justru menjadi bumerang. Mengapa?

    • Meningkatkan Familiaritas: Dengan menyebutkan "pisang pemakan daging", CDC secara tidak sengaja justru membuat frasa mengerikan itu semakin familiar di benak publik. Otak manusia cenderung mengingat pesan yang paling kuat secara emosional, dan melupakan detail "itu tidak benar".

    • Dimanfaatkan oleh Hoaks: Para penyebar hoaks kemudian memodifikasi email mereka, bahkan ada yang menambahkan klaim palsu bahwa "CDC telah mengonfirmasi ancaman ini", menggunakan bantahan tersebut sebagai bukti bahwa subjek ini memang "nyata" dan sedang dibicarakan oleh pihak berwenang.

Secara keseluruhan, kisah ini adalah contoh sempurna tentang bagaimana sebuah cerita yang jelas-jelas salah (pisang tidak bisa menularkan bakteri pemakan daging) bisa menjadi viral karena ia dirancang untuk memintas logika dan langsung menyerang emosi, ketakutan, dan ketidakpercayaan kita pada otoritas. Ia terasa mengerikan, penting, dan mendesak untuk dibagikan, yang merupakan resep sempurna untuk sebuah hoaks yang sukses.

Robson sendiri melalui kisah ini mengharapkan pembaca bukunya untuk dapat menginternalisasi beberapa pemahaman dan keterampilan baru:

  1. Jangan Percaya Perasaan 'Benar' Anda Begitu Saja: Pembaca harus sadar bahwa "rasa kebenaran" atau truthiness adalah ilusi kognitif. Hanya karena sesuatu itu familiar atau mudah dipahami, bukan berarti itu benar.

  2. Berpikir Kritis adalah Keterampilan Aktif, Bukan Bakat Bawaan: Ini bukanlah tentang seberapa tinggi IQ Anda, melainkan tentang kemauan untuk berpikir, kemauan untuk berhenti, bertanya, dan menantang asumsi pertama.

  3. Pelajari Taktik Penipuan, Bukan Hanya Mengingat Fakta: Cara terbaik untuk menjadi kebal terhadap disinformasi adalah dengan memahami bagaimana disinformasi itu dibuat dan disebarkan. Fokus pada "cara kerja tipuannya", bukan hanya pada "fakta yang benar".

  4. Terapkan Skeptisisme pada Diri Sendiri Terlebih Dahulu: Perangkat ini paling berguna bukan untuk menyerang orang lain, tetapi untuk menguji keyakinan kita sendiri. Seperti pengakuan Robson yang mengubah pandangannya tentang tanaman GM, pembaca diharapkan untuk menggunakan perangkat ini untuk menemukan "titik buta" mereka sendiri. Robson sendiri pernah menentang tanaman GM terutama karena alasan lingkungan. Ia akui bahwa pandangannya dibentuk oleh paparan berulang dari argumen-argumen yang datang dari kelompok kampanye kecil namun sangat vokal, seperti Greenpeace. Ia berhenti mengandalkan narasi yang "terasa benar" dan mulai "melihat lebih dekat pada bukti" (a closer look at the evidence) ilmiah yang sebenarnya. Setelah terlepas dari biasnya, Robson malah menemukan bahwa potensi manfaatnya sangat besar dan tak terkira (incalculable). Manfaat utamanya justru sejalan dengan tujuan lingkungan yang dulu ia perjuangkan.

Tidak lupa Robson menambahkan 2 tools untuk memperkokoh proses berpikir sehingga tidak terjebak dalam perangkap kecerdasan, Rasa Ingin Tahu (Curiosity) dan Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mind-set). Robson Richard mengambil kisah Feynman sebagai pembuka argumentasinya, seorang fisikawan pemenang Nobel yang skor IQ-nya "hanya" 125—jauh di bawah para jenius Terman. Kunci kesuksesan Feynman bukanlah kecerdasan bawaan yang luar biasa, melainkan rasa ingin tahunya yang tak pernah padam. Ia terus belajar dan bereksperimen tanpa henti sepanjang hidupnya.

Ide Robson tentang rasa ingin tahu untuk menggambarkan bahwa rasa ingin tahu ini bukanlah sekadar hobi. Secara neurologis, ia mengaktifkan sistem dopamin di otak (sistem yang sama untuk rasa lapar atau hasrat), yang secara harfiah membuat otak "lapar akan informasi" dan memperkuat kemampuan untuk mengingat. Rasa ingin tahu juga menjadi fondasi dari kreativitas dan kecerdasan emosional.

Selain rasa ingin tahu, Growth Mindset yang istilahnya Robson pinjam dari Carol Dweck tidak kalah pentingnya, intinya Dweck ingin mengatakan kalau Mindset itu ada dua yaitu Fixed Mindset dan Growth Mindset. Fixed Mindset adalah sistem kepercayaan yang mengatakan bahwa kecerdasan dan bakat adalah bawaan dan tidak bisa diubah sementara Growth Mindset adalah sistem kepercayaan yang mengatakan bahwa kecerdasan dan kemampuan bisa dikembangkan melalui usaha, latihan, dan belajar dari kesalahan.

Walaupun demikian, saya kurang suka bagian ketika Robson mengambil Feynman sebagai contoh dari teorinya karena Feynman ini outlier, singkatnya tidak banyak orang di IQ Feynman yang bisa berada pada puncak pencapaian Feynman. Kedua, Feynman itu hanya satu kali dites dimasa sekolah dan tidak pernah dites lagi selanjutnya, angka IQ Feynman kurang cukup sebagai data yang valid maupun untuk difalsifikasi. Ketiga, angka 120 itu bukan angka kecil loh, tidak semua orang bisa mencapai angka ini walaupun ini bukan angka yang tinggi. Saya paham kalau Robson butuh "Kura-kura" yang heroik. Masalahnya, Feynman bukanlah kura-kura biasa; ia adalah "kura-kura super".

Tetap saja kita tidak bisa mengukur bahwa apa yang dilakukan Feynman tidak dipengaruhi oleh IQnya, apalagi tidak ada data bahwa orang lain yang melakukan hal yang sama seperti Feynman berakhir sukses atau gagal jika IQnya tidak setinggi Feynman. Tidak pula ada data pembanding orang dengan IQ tinggi yang tidak memiliki curiosity dan growth mindset sebagai sebuah kontrol ketat untuk Argumentasi Robinson. Artinya Robson terjebak dalam teorinya sendiri, ia adalah orang yang berakhir pada jebakan kecerdasan, ia terlalu hebat membuat argumentasi hingga lupa yang ia pagari dengan pagar besi terkuat adalah tanah tandus.

Robson terjebak dalam potensi Myside Bias yang ia jelaskan sendiri, bahkan seorang Robson bisa masuk kedalam perangkap ini dan saya menyebutnya sebagai Paradoks Robson dimana ia mengatakan kalau Myside Bias berpotensi membuat kita salah dalam penilaian tetapi ia juga melakukannya, ia benar ketika mengatakan bahwa bahkan orang jenius dan para peraih Nobel juga tidak lepas dari perangkap kecerdasan termasuk ia mencontohkan dirinya sendiri saat membuat argumen dalam buku ini.

Robson, seperti yang ia jelaskan dalam teori motivated reasoning, bisa jadi secara tidak sadar memilih dan membingkai bukti agar sesuai dengan tesisnya. Ia menonjolkan skor IQ Feynman yang "rendah" sambil mungkin mengecilkan peran kecerdasan mentahnya. Ia menyoroti kegagalan para Termites sambil mungkin kurang menekankan kesuksesan umum mereka dibandingkan populasi biasa. Ia membangun "pagar" yang sangat kuat di sekitar cerita-cerita yang paling mendukung narasinya. Ia seperti FBI yang mengungkap sidik jari palsu yang ia ceritakan.

Bagian lain yang saya tidak setuju dari Robson adalah ketika ia menawarkan proses belajar yang ia rangkum dari berbagai studi, Robson mengkritik  sistem pendidikan Barat, ia katakan kalau pendidikan barat dengan obsesinya pada kecepatan, kemudahan, dan "jawaban benar yang cepat", secara tidak sadar melatih siswa untuk menjadi pemikir yang dangkal dan tidak sabaran. Ini menumbuhkan kemalasan kognitif, ketidaksukaan pada ambiguitas, dan kurangnya kerendahan hati intelektual, bahan-bahan utama dari "perangkap kecerdasan". Robson juga menawarkan sudut pandang belajar yang ia anggap efektif mencakup :
  1. Efek Jarak (Spacing Effect): Belajar dalam potongan-potongan kecil yang tersebar lebih efektif daripada belajar intensif dalam satu waktu (studi kasus pegawai kantor pos).

  2. Selingan (Interleaving): Mencampuradukkan berbagai topik saat belajar lebih baik daripada fokus pada satu topik sampai tuntas.

  3. Kegagalan Produktif (Productive Failure): Berjuang untuk menyelesaikan masalah sebelum diajarkan solusinya secara dramatis meningkatkan pemahaman jangka panjang.

Saat membaca ini, saya tiba2 mengerutkan dahi, saya kemudian melemparkan pertanyaan, Apakah ada studi primer yang membuktikan bahwa metode belajar yang diajukan Robson jauh lebih efektif dibanding metode belajar lain?

Jawaban yang kemudian saya temukan, Ya, memang ada ratusan studi primer. Studi "Spacing Effect" (Efek Jarak) oleh Alan Baddeley (1978), Studi "Testing Effect" & "Interleaving" oleh Bjork dkk., bahkan efek-efek seperti spacing effect dan testing effect adalah beberapa temuan yang paling robust dan paling sering direplikasi dalam seluruh sejarah psikologi kognitif. Ratusan studi oleh laboratorium yang berbeda di seluruh dunia telah mengonfirmasi temuan ini di berbagai bidang: dari belajar kosakata, memecahkan soal matematika, hingga keterampilan motorik.

Namun, data-data itukan tunggal dan bukan gabungan seperti yang ditawarkan oleh Robson, darimana kita bisa tahu dengan persis jika data tunggal dijadikan rujukan untuk metode gabungan? bukankah ini aneh? ingat bahwa teh itu bermanfaat bagi tubuh sebagai antioksidan dan sayur seperti bayam juga bermanfaat bagi tubuh karena mengandung zat besi tetapi jika makan sayur bayam dan minum teh sekaligus maka tannin yang ada pada teh akan menghambat proses penyerapan zat besi dari bayam. Robson mensimplifikasi hal kompleks padahal dia sendiri yang bilang kalau jangan mudah melakukan simplifikasi. Saya tidak mengatakan kalau Robson salah, saya mau katakan kalau Robson tidak lantas menjadi benar dengan menggabungkan berbagai hal yang benar.

Diluar dari itu, Robson sangat bagus ketika bercerita tentang Bagaimana mungkin tim dengan "bakat lebih sedikit" bisa mengalahkan tim dengan "bakat lebih banyak"?, dalam cerita ini, Robson ingin menyampaikan bahwa perangkap kecerdasan bukan saja bisa menjebak individu tapi juga kelompok yang berisi sekumpulan individu cerdas. Robson membuka argumentasinya dengan kisah heroik tim sepak bola Islandia di Euro 2016. Sebuah negara kecil dengan pemain semi-profesional (salah satu pelatihnya adalah dokter gigi paruh waktu) berhasil mengalahkan tim Inggris yang dipenuhi oleh para superstar dari klub-klub terkaya di dunia.

Robson mengutip Anita Williams Woolley dari Carnegie Mellon University untuk menjelaskan hal ini, Woolley secara konsisten menemukan bahwa skor kecerdasan kolektif sebuah tim hampir tidak ada hubungannya dengan rata-rata IQ anggotanya. Tim yang sukses tidak bergantung pada satu atau dua orang terpintar untuk menyelesaikan masalah. Robson juga mengutip penelitian Angus Hildreth untuk memperkuat argumentasinya dimana pada penelitian tersebut didapati hasil yang menunjukkan bahwa ketika para eksekutif tingkat tinggi dikumpulkan, mereka lebih sibuk dengan "konflik status" (berebut siapa yang paling berkuasa) daripada fokus pada tugas itu sendiri. Mereka kurang mau berbagi informasi dan berkompromi.

Menariknya adalah ketika Robson mengutip penelitian Boris Groysberg yang menemukan hubungan "kurva terbalik". Menambahkan bintang ke dalam tim memang meningkatkan kinerja, tetapi hanya sampai titik tertentu (sekitar 45-60%). Setelah itu, penambahan bintang justru menurunkan kinerja karena ego dan kompetisi internal yang destruktif. Ia kemudian menyajikan riset pamungkas yang menunjukan kekuatan argumentasinya yaitu penelitian dari Virginia Tech yang menunjukkan bahwa kompetisi sosial di dalam kelompok bisa membuat individu secara harfiah menjadi lebih bodoh sesaat, dengan memicu area emosional otak (amigdala) dan mengurangi aktivitas di area pemecahan masalah (korteks prefrontal).

Pada bagian 10 bukunya, Robson semakin beringas membongkar perangkap kecerdasan kelompok setelah dibagian awal dan pertengahan buku berusaha membongkar perangkap kecerdasan individu. Pada bagian yang ia beri judul Stupidity spreading like wildfire: Why disasters occur—and how to stop them, Robson menggunakan kejatuhan Nokia sebagai contoh sempurna. Nokia dipenuhi oleh insinyur-insinyur brilian yang tahu bahwa sistem operasi mereka ketinggalan zaman. Namun, budaya perusahaan yang dipimpin oleh manajer yang agresif dan tidak mau mendengar kabar buruk membuat para karyawan takut untuk menyuarakan kebenaran. Akibatnya, perusahaan yang "cerdas" ini secara kolektif bertindak bodoh dan akhirnya bangkrut.

Robson juga mengangkat Deepwater Horizon & Bencana NASA sebagai studi kasus nyata, Robson menjelaskan bahwa sebelum bencana-bencana besar ini terjadi, ada puluhan "nyaris celaka" (near misses) sebelumnya. Misalnya, pada peluncuran pesawat ulang-alik sebelumnya, serpihan busa juga sering lepas, tetapi karena kebetulan tidak pernah mengenai bagian vital, NASA mulai menganggapnya sebagai masalah "sepele". Keputusan yang buruk (mengabaikan serpihan busa) menghasilkan outcome yang tidak fatal, sehingga otak organisasi secara keliru belajar bahwa "keputusan ini aman".

Intinya Robson mau bilang kalau Budaya "Positif Terus" Itu Beracun, dimana sebuah lingkungan kerja yang semua orang diharapkan untuk selalu optimis dan tidak boleh menyampaikan kritik atau kabar buruk adalah lingkungan yang sangat berbahaya. Ini menciptakan "titik buta kolektif" yang membuat organisasi tidak bisa melihat risiko yang ada di depan mata.

Begitulah kira-kira keseluruhan isi buku David Robson yang membuat saya tidak setuju dengan pandangan kawan saya, memang jika dinilai dengan standar ketat sebuah penelitian akademis, argumen Robson memiliki celah. Namun, saya juga menyadari jika tujuan buku ini bukanlah untuk menjadi sebuah jurnal ilmiah yang menyajikan bukti kuantitatif yang definitif. Tujuannya adalah sebagai sebuah manifesto atau kerangka berpikir baru untuk publik.

Komentar

Postingan Populer